Untukmu; Mas-Mba Yang Di Sana!
Tabik. Membaca tulisannya bung @rfarizal95 di situs resmi RPS dengan judul ‘Super Team’ membuat saya kembali merenungi tentang dunia kepemimpinan.
Sudah sejauh mana ‘baiknya’ saya dalam memimpin dan dipimpin. Apakah masih jauh dari yang seharusnya diinginkan? Tentu! Entah karena mungkin kurangnya ilmu, masih saja saya merasa compang-camping dalam menjalankan amanah kepemimpinan ini. Namun untuk melangkah kedepan, saya 1000x optimis. Karena Alhamdulillah saya dikelilingi oleh orang-orang hebat! Di temani oleh orang-orang yang tidak sembarangan. Hehe.
Tetapi fikiran saya jauh menerawang. Tentang Pemimpin dan tim yang ada di dalamnya. Tentang membangun peradaban dan mengusung perubahan.
Seorang pemimpin, sebagus apapun kualitasnya tidak akan cukup menanggung beban amanah perubahan sendirian. Harus ada orang-orang di sekelilingnya yang sadar terhadap amanah dan tanggung jawab dalam memikul beban-beban perubahan. Kesadaran harus hadir secara kolektif.
Maka, mungkin sudah akrab di telinga kita tentang istilah mengangkat pemimpin seperti bersama-sama ‘mengangkat keranda mayat’ yang kerap digembor-gemborkan saat pergantian pemimpin baru lewat quotes-quotes. Dalam Al-Quran juga tergambar dengan jelas bagaimana Kisah Nabi Musa menyeru dan mengajak kaumnya untuk berubah, membangun sebuah peradaban.
Nabi Musa di risalahkan untuk mengangkat ‘marwah’ Bani Israil yang semula dihinakan oleh rezim Fir’aun untuk kemudian berdiri membangun sebuah peradaban. Banyak sekali kejadian-kejadian epic (untuk membebaskan Bani Israil dari kejahatan rezim Fir’aun) termasuk mukjizat membelahnya lautan dan disaat itu juga Bani Israil dipersaksikan oleh Allah matinya seorang raja dzholim; Fir’aun.
Namun tanggung jawab memikul beban perubahan tidak ubahnya sedikit saja hadir di hati Bani Israil. Mereka masih saja belum sadar. Masih saja sibuk dengan diri sendiri. Hingga dengan pongahnya mereka berkata, “FADZHAB ANTA WA RABBUKA FAQOTILAA INNA HAAHUNAA QAA’IDUN “ (Pergilah kamu bersama tuhan kamu untuk berperang, sedangkan kami duduk disini saja). Al-Maidah ayat 24. Bani Israil menolak dan tidak ingin menjadi bagian dari sebuah perubahan.
Sekali lagi, amanah peradaban, pekerjaan hebat, pekerjaan yang selesai tidak bisa hanya dipanggul seorang diri saja.
Maka, lain lagi kisahnya dengan kerja Nabi Muhammad dan Para sahabatnya. Sedari awal Nabi berdakwah, para sahabat dipahamkan dan sadar bahwa perubahan tidak bisa digerakkan oleh laku kerja Nabi seorang diri saja. Maka para sahabat pun mengambil peran dengan penuh keikhlasan dan rasa tanggung jawab sebagai bagian dari perubahan. Kerja-kerja kolektif seperti ini lah yang kemudian menjadikan Peradaban Islam mampu berjaya. Mengangkat Mekah -yang semula tidak diperhitungkan kekuatannya- ke level Internasional, bersaing dengan dua imperium besar pada masa itu.
--
Melangkah jauh dari sana saya berharap bisa meng-aktifkan kepekaan sosial lebih luas. Mampu mencurigai diri sendiri saat gelap menyelimuti mungkin kita lah taqdir yang hendak dikirim Tuhan untuk menyalakan pelita. Menghadirkan hati yang selalu bertanggung jawab serta mengambil peran.
Dan terlebih lagi untuk sekarang saya berharap semoga atas izin Allah, mampu membangun Superteam bersama kawan-kawan seperjuangan! Dimanapun kita atau sedang apapun kita jangan sampai visi perubahan luntur termakan waktu. Entah bagaimana cara nanti, intinya yoklahh sama-sama belajar hehe
Sudah sejauh mana ‘baiknya’ saya dalam memimpin dan dipimpin. Apakah masih jauh dari yang seharusnya diinginkan? Tentu! Entah karena mungkin kurangnya ilmu, masih saja saya merasa compang-camping dalam menjalankan amanah kepemimpinan ini. Namun untuk melangkah kedepan, saya 1000x optimis. Karena Alhamdulillah saya dikelilingi oleh orang-orang hebat! Di temani oleh orang-orang yang tidak sembarangan. Hehe.
Tetapi fikiran saya jauh menerawang. Tentang Pemimpin dan tim yang ada di dalamnya. Tentang membangun peradaban dan mengusung perubahan.
Seorang pemimpin, sebagus apapun kualitasnya tidak akan cukup menanggung beban amanah perubahan sendirian. Harus ada orang-orang di sekelilingnya yang sadar terhadap amanah dan tanggung jawab dalam memikul beban-beban perubahan. Kesadaran harus hadir secara kolektif.
Maka, mungkin sudah akrab di telinga kita tentang istilah mengangkat pemimpin seperti bersama-sama ‘mengangkat keranda mayat’ yang kerap digembor-gemborkan saat pergantian pemimpin baru lewat quotes-quotes. Dalam Al-Quran juga tergambar dengan jelas bagaimana Kisah Nabi Musa menyeru dan mengajak kaumnya untuk berubah, membangun sebuah peradaban.
Nabi Musa di risalahkan untuk mengangkat ‘marwah’ Bani Israil yang semula dihinakan oleh rezim Fir’aun untuk kemudian berdiri membangun sebuah peradaban. Banyak sekali kejadian-kejadian epic (untuk membebaskan Bani Israil dari kejahatan rezim Fir’aun) termasuk mukjizat membelahnya lautan dan disaat itu juga Bani Israil dipersaksikan oleh Allah matinya seorang raja dzholim; Fir’aun.
Namun tanggung jawab memikul beban perubahan tidak ubahnya sedikit saja hadir di hati Bani Israil. Mereka masih saja belum sadar. Masih saja sibuk dengan diri sendiri. Hingga dengan pongahnya mereka berkata, “FADZHAB ANTA WA RABBUKA FAQOTILAA INNA HAAHUNAA QAA’IDUN “ (Pergilah kamu bersama tuhan kamu untuk berperang, sedangkan kami duduk disini saja). Al-Maidah ayat 24. Bani Israil menolak dan tidak ingin menjadi bagian dari sebuah perubahan.
Sekali lagi, amanah peradaban, pekerjaan hebat, pekerjaan yang selesai tidak bisa hanya dipanggul seorang diri saja.
Maka, lain lagi kisahnya dengan kerja Nabi Muhammad dan Para sahabatnya. Sedari awal Nabi berdakwah, para sahabat dipahamkan dan sadar bahwa perubahan tidak bisa digerakkan oleh laku kerja Nabi seorang diri saja. Maka para sahabat pun mengambil peran dengan penuh keikhlasan dan rasa tanggung jawab sebagai bagian dari perubahan. Kerja-kerja kolektif seperti ini lah yang kemudian menjadikan Peradaban Islam mampu berjaya. Mengangkat Mekah -yang semula tidak diperhitungkan kekuatannya- ke level Internasional, bersaing dengan dua imperium besar pada masa itu.
--
Melangkah jauh dari sana saya berharap bisa meng-aktifkan kepekaan sosial lebih luas. Mampu mencurigai diri sendiri saat gelap menyelimuti mungkin kita lah taqdir yang hendak dikirim Tuhan untuk menyalakan pelita. Menghadirkan hati yang selalu bertanggung jawab serta mengambil peran.
Dan terlebih lagi untuk sekarang saya berharap semoga atas izin Allah, mampu membangun Superteam bersama kawan-kawan seperjuangan! Dimanapun kita atau sedang apapun kita jangan sampai visi perubahan luntur termakan waktu. Entah bagaimana cara nanti, intinya yoklahh sama-sama belajar hehe

Komentar
Posting Komentar